Bersama Menjaga Bumi, Bersama Menyehatkan Negeri: Aksi Nyata PHC melalui 3R dan Penghijauan

Surabaya, 30 Juni 2026 - Menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan melalui pelayanan medis, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. PT Pelindo Husada Citra (PHC) melalui RS PHC Surabaya terus menghadirkan berbagai inisiatif ramah lingkungan sebagai bagian dari penerapan green hospital. Mulai dari penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) hingga penanaman bibit pohon di area sekitar Rumah Sakit menjadi bentuk kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat dan generasi mendatang.

Penerapan prinsip 3R telah menjadi budaya kerja di lingkungan PHC. Melalui konsep Reduce, perusahaan telah mengurangi penggunaan kemasan plastik dengan memanfaatkan kemasan reuse untuk pengemasan obat-obatan UDD dan paper bag untuk pengemasan obat yang diterima oleh pasien. Pada prinsip Reuse, jerigen bekas cairan hemodialisis dimanfaatkan sebagai safety box sesuai standar keselamatan. Sementara itu, prinsip Recycle diwujudkan melalui pengolahan sampah organik, seperti daun kering dan sisa tanaman, menjadi pupuk kompos yang digunakan kembali untuk merawat area hijau rumah sakit.

Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui aksi penanaman bibit pohon trembesi oleh Jajaran Direksi dan SEVP PT PHC beserta Jajaran Hospital Director RS PHC sekaligus dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni. Pohon trembesi dipilih karena memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO₂) dalam jumlah besar, menghasilkan oksigen, memberikan keteduhan, serta membantu menurunkan suhu udara di sekitarnya. Selain itu, sistem perakarannya mampu meningkatkan daya serap air ke dalam tanah sehingga membantu mengurangi risiko genangan dan banjir.

Direktur Utama PT PHC, Ary Setyo Nugroho, menegaskan bahwa penerapan prinsip 3R dan aksi penanaman bibit pohon di lingkungan PHC menjadi bukti bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan. Selain itu, berbagai langkah tersebut juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan mendukung pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

“Penerapan prinsip 3R dan aksi penanaman bibit pohon ini memberikan dampak positif yang lebih luas, mulai dari mengurangi timbunan limbah, menekan potensi pencemaran lingkungan, hingga mendukung efisiensi penggunaan sumber daya. Lingkungan yang lebih bersih dan hijau juga berkontribusi terhadap kualitas udara yang lebih baik, sehingga menciptakan suasana yang mendukung proses penyembuhan pasien,” ujar Ary.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, PHC terus memperkuat perannya sebagai perusahaan yang tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, optimalisasi pemanfaatan sumber daya, serta penghijauan kawasan rumah sakit merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan bumi yang lebih sehat.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) : Momen Penting Lindungi Generasi dari Bahaya Rokok

Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya penggunaan tembakau dan paparan asap rokok. Peringatan ini mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat, melindungi diri dan keluarga dari risiko penyakit akibat rokok, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi generasi mendatang.

Apa Itu Hari Tanpa Tembakau Sedunia?

Hari Tanpa Tembakau Sedunia merupakan kampanye kesehatan global yang diinisiasi oleh World Health Organization (WHO) sejak tahun 1987. Peringatan ini bertujuan untuk menyoroti dampak buruk konsumsi tembakau terhadap kesehatan serta mendorong upaya pengendalian tembakau di seluruh dunia. 

Awalnya, WHO menetapkan “Hari Tidak Merokok Sedunia” pada 7 April 1988. Namun, sejak 1988, peringatan ini secara resmi diperingati setiap 31 Mei dengan tema yang berbeda setiap tahunnya.

 

Bahaya Tembakau bagi Kesehatan

Penggunaan tembakau menjadi salah satu penyebab utama kematian yang dapat dicegah di dunia. Rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk zat karsinogen yang dapat memicu berbagai penyakit serius. Dampak kesehatan akibat jantung, antara lain penyakit jantung dan stroke, penyakit paru kronis, kanker (terutama kanker paru, mulut, dan tenggorokan), gangguan kehamilan dan janin, serta risiko kematian dini. Bahkan, paparan asap rokok pada perokok pasif juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius.

 

Peran Masyarakat dalam Mendukung HTTS

Keberhasilan pengendalian tembakau tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga peran aktif masyarakat. Langkah yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Berhenti merokok mulai sekarang
  2. Menghindari paparan asap rokok
  3. Tidak merokok di lingkungan keluarga
  4. Mendukung kebijakan kawasan tanpa rokok
  5. Mengedukasi orang sekitar tentang bahaya rokok

Langkah kecil seperti tidak merokok selama 24 jam dapat menjadi awal perubahan menuju gaya hidup sehat.

 

Kesimpulan

Hari Tanpa Tembakau Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi merupakan ajakan global untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya tembakau. Dengan meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku, dan mendukung kebijakan yang tepat dapat menciptakan generasi yang lebih sehat dan bebas dari rokok.

Donor Darah : Aksi Kemanusiaan yang Menyelamatkan Nyawa

Dalam setiap sistem pelayanan kesehatan modern, ketersediaan darah yang aman dan berkualitas merupakan komponen yang tidak tergantikan. Darah berperan penting dalam berbagai tindakan medis, mulai dari penanganan kegawatdaruratan, prosedur operasi besar, penanganan trauma akibat kecelakaan, hingga terapi rutin bagi pasien dengan penyakit kronis seperti thalasemia dan kanker. Mengingat darah tidak dapat diproduksi secara buatan dan memiliki masa simpan terbatas, keberlanjutan pasokan darah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, donor darah menjadi aktivitas esensial dalam menjaga keberlangsungan layanan kesehatan dan menyelamatkan nyawa.

 

Mengapa Donor Darah Sangat Penting

Donor darah lebih dari sekedar tindakan sosial, tetapi juga kebutuhan medis yang sangat mendesak. Darah yang didonorkan akan digunakan dalam berbagai situasi, seperti:

  1. Menangani kecelakaan dan trauma berat yang mengakibatkan kehilangan banyak darah.
  2. Mendukung operasi besar dan perawatan intensif dimana transfusi darah ada kalanya dibutuhkan.
  3. Membantu pasien dengan penyakit darah kronis yang membutuhkan transfusi berkala.
  4. Menjamin keselamatan ibu ketika persalinan dengan komplikasi pendarahan.

Stok darah yang aman dan memadai mampu menentukan hidup dan mati seseorang. Namun, pasukan darah selalu menjadi tantangan untuk dipenuhi, terutama ketika meningkatnya kasus medis dan bencana.

 

Kebutuhan Donor Darah di Indonesia

Merujuk pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), negara yang ideal seharusnya mempunyai stok darah sekitar 2 persen dari jumlah populasi yang ada (Kemenkes, 2025). Dilansir dari Worldometer (2026) diketahui per tahun 2025, populasi Indonesia berjumlah 287.005.814, maka kebutuhan darah yang harus dimiliki setidaknya 5,7 juta kantong per tahun. Namun, realita yang ada menunjukkan bahwa kebutuhan darah nasional tahun 2024 hanya sekitar 5,6 juta kantor per tahun atau masih jauh dari angka ideal.

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan donor darah secara sukarela menjadi kunci dalam menjembatani ketimpangan tersebut. Semakin banyak pendonor yang aktif setiap tahunnya, semakin besar peluang untuk memenuhi kebutuhan pasien di seluruh negeri.

 

Siapa yang Bisa Donor Darah

Donor darah dapat menjadi aman dan bermanfaat bagi semua pihak ketika dilakukan sesuai dengan syarat yang benar. Berikut adalah persyaratan umum yang harus dipenuhi calon pendonor menurut standar Palang Merah Indonesia (PMI):

  1. Berusia antara 17-65 tahun (dengan beberapa ketentuan khusus)
  2. Berat badan minimal 45 kg
  3. Tekanan darah normal sesuai batas aman
  4. Kadar hemoglobin dalam darah sesuai standar
  5. Tidak sedang sakit berat, hamil, atau menyusui
  6. Interval antara donor minimal 12 minggu (3 bulan) sejak donor terakhir

Selain itu, pendonor yang memiliki penyakit menular tertentu, kondisi media tertentu, atau sedang dalam pengobatan khusus biasanya tidak diperkenankan mendonorkan darah demi keamanan pendonor maupun penerima darah.

 

Syarat Penerima Darah

Penerima darah merupakan pasien yang secara medis membutuhkan transfusi darah. Syarat penerima darah lebih ditentukan oleh kondisi medis, seperti:

  1. Jumlah hemoglobin yang rendah sehingga membutuhkan darah
  2. Kondisi kehilangan darah akut akibat kecelakaan atau pendarahan
  3. Prosedur bedah besar yang memerlukan dukungan transfusi
  4. Penyakit yang mempengaruhi produksi darah atau menghancurkan sel darah

Tim medis nantinya akan menentukan apakah pasien aman dan tepat untuk diberi transfusi darah berdasarkan riwayat medis, hasil laboratorium, dan kebutuhan klinis masing-masing pasien.

 

Manfaat Donor Darah bagi Pendonor

Melakukan donor darah tidak hanya berupaya menyelamatkan nyawa orang lain, tetapi juga membawa manfaat bagi kesehatan pendonor, salah satunya dengan merangsang pembentukan sel darah baru sehingga menjaga keseimbangan darah dalam tubuh. Donor darah secara rutin juga dapat membantu menjaga kesehatan jantung serta menjadi sarana deteksi dini kondisi kesehatan melalui pemeriksaan sebelum donor. Selain itu, donor darah memberikan manfaat psikologis berupa rasa kepedulian dan kepuasan karena telah membantu sesama.

Kasus Kusta di Indonesia Meningkat Lagi, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Menghentikannya?

Penyakit kusta menjadi salah satu penyakit daerah tropis yang terabaikan (Neglected Tropical Disease/NTD) akibat jumlahnya yang sudah menurun, tetapi masih sangat sulit untuk diturunkan hingga ke titik 0. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kusta belum benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat. Data dari World Health Organization diketahui bahwa sekitar 200.000 kasus baru dilaporkan setiap tahunnya di 120 negara (WHO, 2025b). Indonesia sebagai negara tropis, diketahui bahwa penyakit kusta pada periode 2015-2019 relatif tinggi dan stabil, yaitu di kisaran 15-17 ribu kasus per-tahun (WHO, 2025a). Namun, pada tahun 2020-2021 terjadi penurunan tajam yang kemungkinan dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan aktivitas deteksi kasus. Setelah itu, pada tahun 2022-2024 terlihat tren peningkatan kembali jumlah kasus baru. 

Penyakit kusta yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae menyerang kulit dan saraf perifer dimana apabila diabaikan dapat mengakibatkan kecacatan progresif (permanen). Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak dengan penderita kusta yang tidak diobati berupa tetesan dari hidung maupun mulutnya (droplet). Namun, penyakit ini tidak menyebar melalui kontak biasa, seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, maupun duduk bersebelahan. Individu yang paling rentan tertular kusta adalah keluarga yang tinggal serumah dengan penderita kusta (narakontak) (Kemenkes RI, 2023). 

Dampak kusta dapat muncul pada kulit, saraf, dan fungsi anggota tubuh. Pada kulit terlihat adanya bercak putih atau bercak merah dan mati rasa, ada pula yang berupa benjolan di bagian lengan, wajah, badan, dan telinga. Berikutnya, area telapak tangan maupun telapak kaki mengalami mati rasa akibat kerusakan saraf, kelumpuhan di tangan dan kaki, kering, dan tidak berkeringat. 

Kabar baiknya, penyakit kusta dapat dihindari melalui beberapa upaya preventif, seperti deteksi dini dan pemberian obat pencegahan (kemoprofilaksis kusta). Apabila sudah menderita penyakit kusta masih tetap bisa disembuhkan seutuhnya dari sisi penyakit, terutama bila didiagnosis sebelum terjadi kerusakan saraf permanen. Jenis dan lama pengobatan kusta ditentukan berdasarkan tipe kusta dan usia penderita. Umumnya, kusta dibagi menjadi dua jenis, yaitu kusta kering (PB) dan kusta basah (MB). Selain itu, dosis obat antara orang dewasa dengan anak-anak tentu diberikan supaya aman dan sesuai kondisi tubuh. Untuk kusta basah (MB) pengobatannya berlangsung lebih lama, yaitu 12-18 bulan, sedangkan kusta kering (PB) lebih sebentar atau sekitar 6-9 bulan. 

Oleh karena itu, keberadaan penyakit kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang nyata, terutama di Indonesia sebagai negara tropis. Tren peningkatan kembali kasus pascapandemi menunjukkan bahwa kusta belum dapat diabaikan, tetapi membutuhkan perhatian berkelanjutan melalui penguatan deteksi dini, pengobatan tuntas, dan edukasi masyarakat yang berkelanjutan. Upaya pengendalian kusta tentu tidak hanya boleh berfokus pada penyembuhan medis, tetapi juga pada pemutusan rantai penularan dan penghapusan stigma supaya penderita berani memeriksakan diri sejak dini. Melalui komitmen bersama, kusta bukan hanya dapat dikendalikan, tetapi dapat dicegah kecacatannya dan tidak lagi menjadi beban kesehatan di masa depan, melainkan bagian dari penyakit yang berhasil dikendalikan melalui kesadaran dan kepedulian bersama.

 

Sumber

Kemenkes RI. (2023). Siapa yang Berisiko Tertular Penyakit Kusta? Keslan.Kemkes.Go.Id. Diakses pada 20 Januari 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2415/siapa-yang-berisiko-tertular-penyakit-kusta

WHO. (2025a). Global leprosy (‎Hansen disease)‎ update, 2024: Beyond zero cases – what elimination of leprosy really means. https://www.who.int/publications/i/item/who-wer10037-365-384

WHO. (2025b). Leprosy. Who.Int. Diakses pada 20 Januari 2026, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/leprosy

Pentingnya Sustainable Diet bagi Kesehatan dan Lingkungan

Peringatan Hari Gizi Nasional menjadi momentum penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran gizi dalam menjaga kesehatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan kehidupan. Di tengah meningkatnya masalah perubahan iklim, krisis pangan, kerusakan lingkungan hingga meningkatnya penyakit tidak menular akibat pola makan tidak sehat, konsep sustainable diet atau pola makan berkelanjutan ini semakin relevan untuk diangkat sebagai solusi jangka panjang.

Apa Itu Sustainable Diet?

Sustainable diet adalah pola konsumsi makanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi dan mendukung kesehatan manusia, tetapi juga memberikan dampak terhadap lingkungan, mendukung ketahanan pangan, dan dapat diterima secara sosial dan budaya. Pola makan ini menekankan keseimbangan antara kuantitas dan kualitas pangan, keberagaman sumber makanan, serta cara produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab. Dengan kata lain, sustainable diet mengajak masyarakat untuk tidak hanya bertanya “cukup atau tidak makanan yang dikonsumsi”, tetapi juga “seberapa bergizi, aman, dan ramah lingkungan makanan tersebut”.

Kualitas Pangan sebagai Kunci Kesehatan

Dalam konteks gizi, kualitas pangan berperan sangat penting. Konsumsi makanan yang beragam dan kaya zat gizi memberikan dampak yang berarti bagi daya tahan tubuh, fungsi kognitif, dan pencegahan berbagai penyakit. Pola makan yang berkualitas rendah, meskipun cukup secara kalori, tetap mengakibatkan masalah gizi ganda, mulai dari kekurangan zat gizi mikro, kelebihan berat badan hingga obesitas.

 

Tips & Trik Menjalankan Sustainable Diet ala Gen Z

Generasi Z (Gen Z) sebagai generasi dengan populasi tertinggi yang agile dalam memanfaatkan teknologi berperan strategis untuk mendorong perubahan pola konsumsi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Berikut beberapa langkah sederhana dan realistis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari :

Pilih Makanan Beragam, Bukan Sekedar Kenyang

Fokus pada kualitas makanan dengan mengkombinasikan sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Tidak hanya mengejar porsi besar, tetapi memastikan kandungan gizinya seimbang.

Utamakan Pangan Lokal dan Musiman

Mengkonsumsi pangan lokal membantu mengurangi jejak karbon sekaligus mendukung petani dan pelaku usaha lokal. Selain lebih segar, pangan lokal umumnya memiliki nilai gizi yang lebih terjaga.

Batasi Konsumsi Daging Merah dan Olahan

Produksi daging merah berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca dan penggunaan air.

Kurangi Makanan Ultra-Proses secara Bertahap

Batasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak. Gen Z dapat mulai dengan langkah kecil, seperti mengganti minuman manis dengan air putih atau infused water.

Biasakan Membaca Label Pangan

Memahami informasi nilai gizi, komposisi, dan tanggal kadaluarsa membantu Gen Z membuat pilihan makanan yang lebih sadar gizi dan bertanggung jawab.

Kurangi Food Waste dengan Porsi Bijak

Ambil makanan secukupnya dan habiskan. Merencanakan menu harian atau mingguan juga dapat membantu mengurangi pemborosan makanan.

Jadikan Gaya Hidup, Bukan Tren Sesaat

Sustainable diet bukan tentang diet ketat atau larangan ekstrem, tetapi perubahan gaya hidup jangka panjang yang konsisten dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

 

Melalui peringatan HGN 2026, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran dan komitmen seluruh pemangku kepentingan terhadap pentingnya penerapan sustainable diet. Pola makan berkelanjutan tidak hanya berkontribusi pada kesehatan individu, tetapi juga berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan di masa mendatang. Oleh karena itu, mari kita mulai menerapkan prinsip sustainable diet dalam kehidupan sehari-hari dengan memilih pangan yang bergizi, beragam, dan bertanggung jawab.

Image

Office Address

  • 121 King Street, Australia
  • example@gmail.com
  • (00) 2500-123-4567

Social List