Arrow
Arrow
Slider

Banyak orang yang tahu kalau jantung koroner bisa menyebabkan kematian. Tapi tak banyak yang paham tentang penyakit yang satu ini. Penyakit Jantung Koroner (PJK) terjadi karena pasokan dan kebutuhan oksigen di otot jantung tidak seimbang, hal itu diakibatkan penyempitan atau pembuntuan atau pengerutan (spasme) arteri koroner, yaitu pembuluh darah arteri yang berada di permukaan jantung. Tidak ada penyebab tunggal dari PJK, karena itu dikenal faktor risiko penderita PJK, seperti penderita diabetes militus, hipertensi (tekanan darah tinggi), dan kolesterol tinggi terutama LDL (low–density lipoprotein) atau kolesterol jahat, selain itu memiliki riwayat keluarga yang positif menderita jantung koroner, dan gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan berjenis kelamin pria juga berisiko terhadap penyakit ini. Gejala PJK memiliki gejala khas. Sayangnya banyak orang tidak tanggap terhadap gejala ini. Akibatnya PJK tidak mendapatkan penanganan sejak dini. Inilah yang meningkatkan risiko kematian para penderita PJK. Untuk mengurangi risiko kematian itu, kuncinya adalah memahami dan tanggap terhadap gejala PJK.

Gejala yang biasa dirasakan penderita PJK yaitu penderita merasakan nyeri dada tengah yang disebut juga dengan angina pectoris seperti tertekan benda berat, rasa panas atau dicengkeram (kemeng) kurang lebih selama 5 menit kemudian menjalar keleher seperti tercekik atau menjalar ke lengan kiri atau ke punggung atau ke atas perut, jelas dokter Budi Bhakti spesialis jantung RS PHC Surabaya. Bagi masyarakat sering kali nyeri yang menjalar keatas perut diprediksi sebagai penyakit maag, padahal angina pectoris bisa menyebabkan kematian mendadak.

Berikut beberapa gejala PJK :

  1. Penderita tidak merasa apa apa (silent angina)
    Penderita teridentifikasi PJK setelah melakukan pemeriksaan EKG (echokardiografi), sering didapat pada penderita diabetes militus.
  2. Angina pektoris stabil
    Penderita merasa nyeri seperti tersebut di atas jika dilakukan aktivitas tertentu tetapi jika penderita istirahat, nyeri tersebut hilang, misalnya penderita berjalan pada jarak 100m, keluhan nyeri tersebut timbul namun saat penderita istirahat sebentar keluhan nyeri tersebut hilang, hal ini disebabkan karena suplai oksigen ke otot jantung kurang sebagai akibat penyempitan pembuluh darah koroner, penyempitan ini terjadi karena adanya LDL kolesterol yang tinggi yang mengendap pada dinding pembuluh darah koroner.
  3. Sindroma koroner akut
    Pada sindroma koroner akut yang bagi masyarakat awam dikenal sebagai serangan jantung, keluhan nyeri dada terjadi secara tiba tiba tidak bergantung aktivitas, hal ini dikarenakan adanya gumpalan darah pada pembuluh darah (thrombus).

Bila mengalami gejala PJK, segeralah memeriksakan diri ke dokter, khususnya dokter spesialis jantung. Dokter akan memberi terapi sesuai dengan keluhan dan kondisi pasien. Bila dengan terapi mendikamentosa (menggunakan obat-obatan) tidak menunjukkan hasil optimal, langkah selanjutnya dilakukan pemeriksaan dengan angiografi koroner untuk melihat letak dan tingkat keparahan penyempitan pembuluh darah koroner.

Cegah terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) dengan :

  • Terapkan gaya hidup sehat (tidak merokok, hindari makanan berlemak seperti fast food)
  • Kendalikan tekanan darah, gula darah dan kadar kolesterol darah Anda
  • Olah raga secara teratur, minimal 30 menit 3x seminggu
  • Jika Anda berusia >30 th sebaiknya lakukan medical check up minimal 1 th sekali (pemeriksaan profil lipid, gula darah, tekanan darah, treadmill)